Sejarah Bela Negara
Berawal dari pergerakan yang bersifat “kedaerahan” seperti Boedi Oetomo (1908), Sarekat Islam (1911), Muhammadiyah (1912), Indische Party (1912), Indische Social Democratische Vereiniging (1913), Trikoro Darmo (1915) yang kemudian berganti menjadi Jong Java (1918), Nahdhatoel Oelama (1926), dan Indonesia Moeda (1931). Semua pergerakan tersebut dengan berbagai macam subkultur etnis, seperti Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Celebes dan sebagainya, melahirkan suatu pergerakan nasionalisme yang berjatidiri “Indonesianess” dengan membulatkan tekadnya dalam Soempah Pemoeda, 28 Oktober 1928.
Dari keanekaragaman subkultur tadi, terciptalah suatu core culture (budaya inti) yang kemudian menjadi basis dari negara-bangsa (nation state) Indonesia, yaitu nasionalisme. Jadi, pada tahapan penjajahan, semua suku dan subkultur yang berada dibawah tekanan penjajahan Belanda, mulai bangkit dan menegaskan diri sebagai satu bangsa (tunggal), yaitu bangsa Indonesia. Itulah sebabnya, nasionalisme jaman penjajahan ini dapat disebut sebagai nasionalisme anti-kolonialisme, anti-imperialisme dan anti-diskriminasi.
Periodisasi
Sejak awal kemerdekaan hingga sekarang, peristiwa bersejarah
sebagai wujud hak dan kewajiban bela negara itu dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Periode 1945 – 1949
Dalam periode ini, Belanda kembali ke Indonesia untuk menjajah seperti sebelumnya. Wujud hak dan kewajiban warga negara
dalam bela negara terlihat dalam keikutsertaan dalam perang mempertahankan kemerdekaan, secara militer ataupun non-militer. Seperti pidato yang disampaikan oleh Jendral Soedirman pada tanggal 12 Nopember 1945 yaitu : “Negara
Indonesia tidak cukup dipertahankan oleh tentara saja, maka perlu mengadakan
kerja sama yang erat dengan golongan serta badan yang berada diluar militer”.
Periode 1950 – 1965
Periode ini diawali dengan perjuangan
Trikora untuk merebut kembali Irian barat dan perjuangan Dwikora. Oleh karena terganggunya keamanan dalam negara, perwujudan hak dan kewajiban warga negara dalam bela negara
seharusnya mulai mengarah pada perwujudan Indonesia yang diimpikan, namun
mengingat kondisi dan situasi, lebih diutamakan perjuangan melalui kegiatan peratahanan dan
keamanan, baik bersenjata maupun tidak bersenjata. Dalam periode
ini juga dilaksanakan Konferensi Asia Afrika (1955), dilaksanakannya pemilu untuk Konstituante (1955), terbentuknya Gerakan Non-Blok (GNB), keluarnya
Indonesia dari PBB, berlakunya Nasakom dan demokrasi terpimpin, PKI semakin besar, dibubarkannya partai yang bertentangan dengan PKI, dibentuknya
Front Nasional yang menentukan politik dan kebijakan pemerintah serta diakhiri dengan terjadinya
peristiwa G30S PKI / Gestapu (1965).
Periode 1966 – 1998
Setelah bergantinya rezim dari Orde Lama ke Orde Baru, bangsa Indonesia memasuki periode
pembangunan dengan tantangan yang kompleks dan penuh ketidakpastian. Pada periode ini perwujudan hak dan kewajiban warga negara dalam bela negara diterapkan dalam kegiatan terpadu keamanan dan pertahanan, yang mengutamakan stabilitas nasional.
Periode Reformasi sampai sekarang
Semakin cepat perkembangan global, tantangan kebangsaan Indonesia semakin pasif karena pengaruh arus globalisasi yang menuntut transparansi dan kehidupan bangsa
yang lebih demokratis. Pada periode ini hakikat dan hak kewajiban bela negara lebih terarah kepada peningkatan ketahanan nasional, dengan menitikberatkan demokratisasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Dari rangkaian peristiwa sejarah bela negara sebagaimana yang dijelaskan diatas,
terlihat dinamika kehidupan bangsa untuk mencapai tujuan dan cita-cita nasional. Seluruh
warga negara menjalankan hak dan kewajibannya sesuai dengan
situasi dan kondisi yang terjadi pada zamannya. Dalam periode perang
kemiliteran, warga negara menjalankan hak dan kewajibannya dengan mengangkat senjata untuk mengupayakan Indonesia yang damai,
sedangkan pada masa damai sekarang ini, perwujudan cita-cita dan tujuan nasional
dilakukan melalui pembangunan nasional, dimana warga negara memperlihatkan
komitmen nasionalismenya dengan melalui profesionalisme dalam bidang dan keahlian masing-masing.
Comments
Post a Comment